Nenekku Serba Bisa

07.30.00 Unknown 1 Comments

Lampung Post
1 Juni 2014




 Naura baru saja pulang dari sekolah. Ia membawa  satu lembar kertas yang bertuliskan angka seratus. Dengan senyum bahagia ia berlari dan berteriak kearah dapur. Nenek lihat aku dapat nilai seratus!
“ Wah kamu hebat sayang!“ Jawab nenek sambil mencium cucu kesayangannya itu. Ya sudah ganti baju dan makan, nenek sudah siapkan makanan kesukaan kamu. Pokoknya dijamin kamu suka sayang, Nenek memasaknya dngan penuh cinta untukmu cucuku.
“Iya Nek!” Jawab Naura sambil berlari kearah kamar tidur untuk ganti baju.Naura sudah ganti baju, dan menuju ruang makan. Di meja makan sudah tersedia aneka hidangan, ada nasi putih, tempe mendoan, sayur bayam dan sambal.
“ Nenek aku ingin sepertimu, bisa buat makanan enak setiap hari, apa aku bisa Nek?” tanya Naura.
“Tentu saja, kalau kamu sungguh-sungguh belajar kamu pasti lebih jago dari pada Nenek.” Jawab Nenek sambil tersenyum manis.
Naura makan dengan lahapnya, sambil bercerita apa saja yang ia lakukan selama di sekolahnya. Dan nenek pasti selalu menjadi pendengar setia dan memberikan motivasi untuk cucunya itu.
“Oya nek aku mau main sebentar ya ke taman, boleh kan Nek?”
 tanya Naura.
“Iya boleh sayang, tapi jangan sore-sore ya pulangnya!” Jawab nenek dengan nada lembut.
“baik Nek, aku akan segera kembali, “teriak Naura sambil berlari membawa alat musik pianika yang akan ia mainkan bersama kedua sahabatnya itu.
***
“Naura datang, Naura datang,” teriak teman-temannya yang sudah setengah jam menunggu Naura untuk berlatih musik bersama. Meskipun usia Naura masih 10 tahun, Naura sudah terkenal jago memainkan berbagai alat musik. Diantaranya biola, gitar, pianika dan suling.
Naura mulai mempersiapkan pianika yang dibawanya, itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya sebelum berangkat untuk bekerja di Malaysia, dua tahun yang lalu. Sedang Ayahnya, sudah meninggal sejak Naura berusia 4 tahun. Tapi, meski begitu Naura tumbuh menjadi gadis kecil yang riang, dan tidak suka mengeluh walau dalam keadaan sesulit apapun.
“Naura mulai memainkan nada-nada dasar yang begitu indah. Sambil ia menyanyikan lagu kesayangannya tentang Ibu, sosok yang kini jauh darinya, yang kehadirannya selalu ia rindukan. Seringkali ia melukis wajah ibu lewat syair yang ia buat, yang menggambarkan tentang perasaannya, kerinduan akan hadirnya Ibu.
Hei Naura!” kamu pandai sekali memainkannya, siapa yang mengajarkanmu?” tanya Rima, salah satu teman yang pintar di sekolahnya.
Ini semua berkat Nenekku,” Ia yang selalu mengajariku, memasak, belajar, bermain musik, menari hingga mengurus kebun di belakang rumah kami.” Jawab Naura.
Ah, sehebat itukah Nenekmu, aku tak percaya!” kalau memang Dia jago, aku ingin bertemu dengannya.” Jawab Rima yang seolah tak percaya dengan kata-kata  Naura. Karena yang selama ini ia tahu kalau sudah tua kebanyakan melakukan rutinitas yang serba terbatas. Karena faktor usia dan lemahnya fisik.
“Ayuk kita ke rumah!” jawab Naura. Nenekku kalau jam segini sedang tidak sibuk di rumah.
Naura dan teman-temannya memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan latihan musik sore itu  mereka akhiri. Dengan hati riang, Naura mengajak teman-temannya main ke rumahnya. Ia bangga mempunyai seorang nenek yang baik dan sangat lincah.
Sampailah di rumah, “ Assalamulaikum,Nenek lagi dimana ?” teriak Naura memanggil Neneknya.
“Nenek di taman Naura, sahut nenek dengan suara khasnya. Tumben cuma sebentar mainnya, biasanya sampai asar baru pulang.
Ada teman-teman Naura ni Nek, ada Rima, Nada, dan Desti. Mereka ingin tahu tanya-tanya sesuatu ke Nenek.
Nenek, kata Naura jago main alat musik, menari, memasak, berkebun dan mendongeng ya?” boleh Nenek peragakan ke kami, permainan musik Nenek?”
Ia benar sedari muda Nenek Naura memang sangat aktif dalam berbagai hal, berbagai event ia ikuti hingga banyak sekali medali dan piala yang ia dapatkan, ia mempunyai visi dan misi yang jelas dalam hidupnya. Baginya hidup itu harus memberikan manfaat. Berbekal ilmunya itu Nenek ingin menjadikan kehidupannya penuh dngan makna, dan ilmunya itu ia tularkan pada cucu kesayangannya. “Naura, gadis cantik bermata ungu, begitulah julukan untuk cucunya itu.
Nenek kemudian menyetel lagu, dipanggilah anak-anak itu, Naura dan teman-teman kemari ?” Nenek memanggil mereka ke ruang tengah. “Disana Nenek mulai menari dengan lincahnya, gerakan-gerakannya sangat lentur seperti seorang wanita yang usianya masih 20-han tahun. Berbagai gerakan mampu Nenek peragakan dari yang tradisional hingga modern. Naura dan teman-teman terkesima melihat Nenek yang begitu gemulai menari dengan indahnya.
Gimana Anak-anak tarian Nenek?” tanya nenek, dengan –
sedikit senyum di wajahnya.
Keren Nek, “teriak Naura dan teman-temannya dengan serempak, dan mengacungkan jempol mereka pada Nenek.
“Oya Nek, coba nek mainkan alat musik gitar ini, tanya Rima sambil menunjuk sebuah gitar yang menyandar di diding di ruang tengah. Nek main gitar ini nggak mudah lho, Aku aja perlu latihan lama untuk memainkannya, yakin Nenek bisa ?” Rima menantang Nenek Naura.
Kemudian diambilah gitar  hitam itu, Nenek mulai memetik gitar itu dengan jemarinya yang sudah mengeriput. Dia membawakan lagu klasik yang biasa ia putar di zamannya. Permainannya sangat indah, alunan nada yang begitu syahdu, dan melodi yang begitu memukau.

“ Wah Nenek hebat, ungkap Rima dan teman-teman yang lain, “bisik Rima dalam hati bukan anak muda saja yang bisa melakukan banyak hal, bahkan seorang Nenek yang sudah tuapun bisa tetap semangat dan energik. Rima tersenyum tipis, dan memberikan tepuk tangan ke Nenek.

1 komentar: