Nenekku Serba Bisa
Lampung Post1 Juni 2014
Naura baru saja pulang dari sekolah. Ia
membawa satu lembar kertas yang
bertuliskan angka seratus. Dengan senyum bahagia ia berlari dan berteriak
kearah dapur. Nenek lihat aku dapat nilai seratus!
“
Wah kamu hebat sayang!“ Jawab nenek sambil mencium cucu kesayangannya itu. Ya
sudah ganti baju dan makan, nenek sudah siapkan makanan kesukaan kamu. Pokoknya
dijamin kamu suka sayang, Nenek memasaknya dngan penuh cinta untukmu cucuku.
“Iya
Nek!” Jawab Naura sambil berlari kearah kamar tidur untuk ganti baju.Naura
sudah ganti baju, dan menuju ruang makan. Di meja makan sudah tersedia aneka
hidangan, ada nasi putih, tempe mendoan, sayur bayam dan sambal.
“
Nenek aku ingin sepertimu, bisa buat makanan enak setiap hari, apa aku bisa Nek?”
tanya Naura.
“Tentu
saja, kalau kamu sungguh-sungguh belajar kamu pasti lebih jago dari pada
Nenek.” Jawab Nenek sambil tersenyum manis.
Naura
makan dengan lahapnya, sambil bercerita apa saja yang ia lakukan selama di
sekolahnya. Dan nenek pasti selalu menjadi pendengar setia dan memberikan
motivasi untuk cucunya itu.
“Oya
nek aku mau main sebentar ya ke taman, boleh kan Nek?”
tanya Naura.
“Iya
boleh sayang, tapi jangan sore-sore ya pulangnya!” Jawab nenek dengan nada
lembut.
“baik
Nek, aku akan segera kembali, “teriak Naura sambil berlari membawa alat musik
pianika yang akan ia mainkan bersama kedua sahabatnya itu.
***
“Naura
datang, Naura datang,” teriak teman-temannya yang sudah setengah jam menunggu
Naura untuk berlatih musik bersama. Meskipun usia Naura masih 10 tahun, Naura
sudah terkenal jago memainkan berbagai alat musik. Diantaranya biola, gitar,
pianika dan suling.
Naura
mulai mempersiapkan pianika yang dibawanya, itu adalah hadiah ulang tahun dari
ibunya sebelum berangkat untuk bekerja di Malaysia, dua tahun yang lalu. Sedang
Ayahnya, sudah meninggal sejak Naura berusia 4 tahun. Tapi, meski begitu Naura
tumbuh menjadi gadis kecil yang riang, dan tidak suka mengeluh walau dalam
keadaan sesulit apapun.
“Naura
mulai memainkan nada-nada dasar yang begitu indah. Sambil ia menyanyikan lagu
kesayangannya tentang Ibu, sosok yang kini jauh darinya, yang kehadirannya
selalu ia rindukan. Seringkali ia melukis wajah ibu lewat syair yang ia buat, yang
menggambarkan tentang perasaannya, kerinduan akan hadirnya Ibu.
Hei
Naura!” kamu pandai sekali memainkannya, siapa yang mengajarkanmu?” tanya Rima,
salah satu teman yang pintar di sekolahnya.
Ini
semua berkat Nenekku,” Ia yang selalu mengajariku, memasak, belajar, bermain musik,
menari hingga mengurus kebun di belakang rumah kami.” Jawab Naura.
Ah,
sehebat itukah Nenekmu, aku tak percaya!” kalau memang Dia jago, aku ingin
bertemu dengannya.” Jawab Rima yang seolah tak percaya dengan kata-kata Naura. Karena yang selama ini ia tahu kalau
sudah tua kebanyakan melakukan rutinitas yang serba terbatas. Karena faktor
usia dan lemahnya fisik.
“Ayuk
kita ke rumah!” jawab Naura. Nenekku kalau jam segini sedang tidak sibuk di
rumah.
Naura
dan teman-temannya memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan latihan musik sore itu
mereka akhiri. Dengan hati riang, Naura
mengajak teman-temannya main ke rumahnya. Ia bangga mempunyai seorang nenek
yang baik dan sangat lincah.
Sampailah
di rumah, “ Assalamulaikum,Nenek lagi dimana ?” teriak Naura memanggil
Neneknya.
“Nenek
di taman Naura, sahut nenek dengan suara khasnya. Tumben cuma sebentar mainnya,
biasanya sampai asar baru pulang.
Ada
teman-teman Naura ni Nek, ada Rima, Nada, dan Desti. Mereka ingin tahu
tanya-tanya sesuatu ke Nenek.
Nenek,
kata Naura jago main alat musik, menari, memasak, berkebun dan mendongeng ya?”
boleh Nenek peragakan ke kami, permainan musik Nenek?”
Ia
benar sedari muda Nenek Naura memang sangat aktif dalam berbagai hal, berbagai
event ia ikuti hingga banyak sekali medali dan piala yang ia dapatkan, ia
mempunyai visi dan misi yang jelas dalam hidupnya. Baginya hidup itu harus
memberikan manfaat. Berbekal ilmunya itu Nenek ingin menjadikan kehidupannya
penuh dngan makna, dan ilmunya itu ia tularkan pada cucu kesayangannya. “Naura,
gadis cantik bermata ungu, begitulah julukan untuk cucunya itu.
Nenek
kemudian menyetel lagu, dipanggilah anak-anak itu, Naura dan teman-teman kemari
?” Nenek memanggil mereka ke ruang tengah. “Disana Nenek mulai menari dengan
lincahnya, gerakan-gerakannya sangat lentur seperti seorang wanita yang usianya
masih 20-han tahun. Berbagai gerakan mampu Nenek peragakan dari yang
tradisional hingga modern. Naura dan teman-teman terkesima melihat Nenek yang
begitu gemulai menari dengan indahnya.
Gimana Anak-anak
tarian Nenek?” tanya nenek, dengan –
sedikit senyum di wajahnya.
Keren
Nek, “teriak Naura dan teman-temannya dengan serempak, dan mengacungkan jempol
mereka pada Nenek.
“Oya
Nek, coba nek mainkan alat musik gitar ini, tanya Rima sambil menunjuk sebuah
gitar yang menyandar di diding di ruang tengah. Nek main gitar ini nggak mudah
lho, Aku aja perlu latihan lama untuk memainkannya, yakin Nenek bisa ?” Rima
menantang Nenek Naura.
Kemudian
diambilah gitar hitam itu, Nenek mulai
memetik gitar itu dengan jemarinya yang sudah mengeriput. Dia membawakan lagu
klasik yang biasa ia putar di zamannya. Permainannya sangat indah, alunan nada
yang begitu syahdu, dan melodi yang begitu memukau.
“
Wah Nenek hebat, ungkap Rima dan teman-teman yang lain, “bisik Rima dalam hati
bukan anak muda saja yang bisa melakukan banyak hal, bahkan seorang Nenek yang
sudah tuapun bisa tetap semangat dan energik. Rima tersenyum tipis, dan
memberikan tepuk tangan ke Nenek.


wow, bagus nih, tinggal rapikan EYDnya aja Afri, sukses ya!
BalasHapus